Kita tentu masih ingat dengan drama penggerebekan rumah teroris di daerah Temanggung Jawa Tengah, yang diperkirakan sebagai tempat persembunyian Noordin M Top, gembong teroris yang paling dicari di Indonesia. Tak tanggung-tanggung, drama penggerebekan itu berlangsung selama 18 jam, sebuah waktu yang tidak singkat. Dari drama penggerebekan ini lantas muncul beberapa hal yang patut dipertanyakan.
1. Mengapa proses penggerebekan berlangsung lama sekali ?
Pengepungan rumah yang diperkirakan sebagai markas teroris itu dimulai sejak hari jumat 7 Agustus 2009 sekitar pukul 15.00. Diberitakan bahwa terjadi perlawanan dari dalam rumah, sehingga terjadi adu tembak. Awalnya aku mengira polisi akan membekuknya dalam waktu beberapa jam saja. Namun yang terjadi, polisi tampak 'mengulur-ulur' waktu. Sehingga rumah itu baru dimasuki pada sabtu 8 Agustus 2009 sekitar pukul 09.45. Mereka beralasan bahwa mereka ingin berhati-hati agar tidak terjadi kesalahan. Dan mereka memperkirakan pelaku teroris di dalam rumah itu memiliki bom sehingga bisa saja mereka meledakkan diri saat polisi memasuki rumah itu Tapi apa perlu sampai waktu 18 jam ?? Apa yang dilakukan polisi selama 18 jam itu ?
Menurutku waktu yang begitu lama sangatlah tidak efektif. Bukankah masih banyak cara lain untuk melumpuhkan teroris sebelum polisi menyerbu ke dalam rumah ? Misalnya saja dengan memasukkan gas tidur kedalam rumah sehingga pelaku lumpuh dan tidak bisa mengaktifkan bom bunuh dirinya atau dengan cara-cara lain yang lebih cepat dan tepat, yang aku yakin para polisi bisa melakukannya. Bukankah itu lebih efektif dan mengemat waktu ?
2. 18 Jam hanya untuk melumpuhkan 1 orang ?
Awalnya polisi menyebutkan ada setidaknya 3 orang didalam rumah tersebut. Namun betapa kecewanya aku saat ternyata polisi hanya membawa sebuah kantung jenazah dari rumah itu. Ya, ternyata hanya ada 1 orang di dalam rumah itu. Dan polisi butuh waktu 18 jam HANYA untuk melumpuhkan 1 orang. Memang orang tersebut memberikan perlawanan yang gigih, tapi apakah polisi begitu kewalahan menghadapinya ? Apalagi polisi memiliki perelengkapan dan persenjataan yang LEBIH lengkap dari para teroris tersebut.
Jika memang ternyata benar ada 3 orang di dalam rumah tersebut, toh polisi masih memilki perlengkapan yang lebih lengkap dan jumlah personel yang lebih banyak. Jadi seharusnya polisi bisa memiliki berbagai cara untuk mengatasinya. Dan lagi, waktu 18 jam yang sebagian besar malam hari itu bisa saja dimanfaatkan para teroris tersebut untuk kabur sehingga hanya menyisakan 1 orang didalamnya. Mungkin saja kan ?
3. Mengapa ada warga yang belum di-evakuasi ?
Polisi menyatakan bahwa warga di sekitar situ dalam radius 1 km dari rumah tersebut telah di evakuasi. Namun nyatanya, saat adu tembak terjadi, beberapa warga yang berada di rumah yang jaraknya 100 meter hingga 50 meter dari rumah teroris tersebut masih terjebak didalamnya. Beberapa warga tersebut menyatakan, mereka disuruh untuk tetap berada di dalam rumah oleh para polisi. Baru beberapa jam kemudian polisi menyuruh mereka untuk pergi.
Tindakan polisi ini patut dipertanyakan juga. Mengapa polisi membiarkan ada warga yang berada dalam jarak begitu dekat dengan lokasi adu tembak ? Akibatnya, beberapa warga tersebut (bahkan ada beberapa anak kecil juga) mengaku trauma dan takut. Jelas saja mereka takut, mereka mendengar bahkan menyaksikan sendiri adu tembak dalam jarak yang amat sangat dekat dengan mereka.
4. Apakah waktu selama 18 jam itu untuk menarik perhatian publik ?
Waktu penggerebekan yang berlangsung selama 18 jam itu menimbulkan spekulasi lain, yaitu apakah polisi sengaja mengulur waktu untuk menarik perhatian dan simpati publik ? Pihak Intelijen dan Kepolisian yang merasa 'kecolongan' dengan adanya ledakan bom di Ritz Carlton dan JW Marriot berusaha untuk memulihkan nama baiknya sehingga perlu adanya tindakan nyata dan 'heroik'. Maka saat polisi memperkirakan mereka menemukan persembunyian Noordin M Top, mereka langsung menarik perhatian media. Dengan segera, berita tersebut di'eksplosif' oleh media dan publik menaruh harapan besar terhadap pihak Kepolisian.
Saat proses penggerebekan berlangsung, setiap momen diabadikan dan dipublikasikan oleh media sehingga yang tampak adalah 'Polisi bertindak secara heroik untuk melumpuhkan teroris'. Maka secara otomatis, nama Intelijen dan Kepolisian terangkat kembali. Apakah benar seperti itu ??
5. Bukan Noordin M Top ??
Terakhir, kita bertanya-tanya, siapakah orang yang ada didalam rumah tersebut ? Saat penggerebekan, polisi sempat menyatakan bahwa orang tersebut adalah Noordin M Top. Namun belakangan, dalam konferensi pers setelah penggerebekan, polisi menyatakan belum berani mengungkapkan identitas teroris tersebut.
Mengapa polisi sebelumnya berani menyatakan bahwa itu adalah Noordin M Top ? Apakah ada bukti-bukti kuat yang menunjukkan bahwa didalam rumah tersebut terdapat Noordin M Top ? Memang disaat proses penggerebekan terjadi, polisi sempat menanyakan identitas teroris tersebut melalui pengeras suara dan teroris tersebut mengatakan bahwa dirinya adalah Noordin M Top. Lantas apakah polisi percaya begitu saja ? Logikanya, tidak ada seorang pencuri yang mau mengaku dirinya adalah pencuri. Apalagi dalam hal ini, Noordin M Top adalah seorang buronan kelas kakap, mana mungkin dia mengaku begitu saja ?
Lagi-lagi kita berspekulasi, apakah polisi sengaja menyatakan bahwa mereka menemukan Noordin M Top untuk menarik perhatian publik ?? Seperti pertanyaan nomor 4 tadi, apakah mungkin ini dilakukan untuk mengembalikan nama baik Intelijen dan Kepolisian ?
Namun, terlepas dari semua dugaan dan spekulasi tadi, aku mengucapkan selamat kepada pihak Kepolisian, dalam hal ini Densus 88, yang telah berhasil menangkap dan membunuh teroris di daerah Temanggung Jawa tengah dan Jati Asih Bekasi, sabtu yang lalu. Dan tentu saja kita juga harus berterima kasih kepada pihak Intelijen dan Kepolisian yang telah berusaha keras untuk memberantas terorisme dari negeri ini.
Perlu diingat, hal-hal yang diungkapkan diatas hanyalah sebatas pendapat dari aku pribadi. Dan aku tidak pernah bermaksud untuk menjelek-jelekkan pihak manapun. Aku memohon maaf jika ada pihak-pihak yang merasa tersinggung karena tulisan ini. Tapi sekali lagi, ini hanyalah sebuah pendapat dan pemikiranku belaka.
1. Mengapa proses penggerebekan berlangsung lama sekali ?
Pengepungan rumah yang diperkirakan sebagai markas teroris itu dimulai sejak hari jumat 7 Agustus 2009 sekitar pukul 15.00. Diberitakan bahwa terjadi perlawanan dari dalam rumah, sehingga terjadi adu tembak. Awalnya aku mengira polisi akan membekuknya dalam waktu beberapa jam saja. Namun yang terjadi, polisi tampak 'mengulur-ulur' waktu. Sehingga rumah itu baru dimasuki pada sabtu 8 Agustus 2009 sekitar pukul 09.45. Mereka beralasan bahwa mereka ingin berhati-hati agar tidak terjadi kesalahan. Dan mereka memperkirakan pelaku teroris di dalam rumah itu memiliki bom sehingga bisa saja mereka meledakkan diri saat polisi memasuki rumah itu Tapi apa perlu sampai waktu 18 jam ?? Apa yang dilakukan polisi selama 18 jam itu ?
Menurutku waktu yang begitu lama sangatlah tidak efektif. Bukankah masih banyak cara lain untuk melumpuhkan teroris sebelum polisi menyerbu ke dalam rumah ? Misalnya saja dengan memasukkan gas tidur kedalam rumah sehingga pelaku lumpuh dan tidak bisa mengaktifkan bom bunuh dirinya atau dengan cara-cara lain yang lebih cepat dan tepat, yang aku yakin para polisi bisa melakukannya. Bukankah itu lebih efektif dan mengemat waktu ?
2. 18 Jam hanya untuk melumpuhkan 1 orang ?
Awalnya polisi menyebutkan ada setidaknya 3 orang didalam rumah tersebut. Namun betapa kecewanya aku saat ternyata polisi hanya membawa sebuah kantung jenazah dari rumah itu. Ya, ternyata hanya ada 1 orang di dalam rumah itu. Dan polisi butuh waktu 18 jam HANYA untuk melumpuhkan 1 orang. Memang orang tersebut memberikan perlawanan yang gigih, tapi apakah polisi begitu kewalahan menghadapinya ? Apalagi polisi memiliki perelengkapan dan persenjataan yang LEBIH lengkap dari para teroris tersebut.
Jika memang ternyata benar ada 3 orang di dalam rumah tersebut, toh polisi masih memilki perlengkapan yang lebih lengkap dan jumlah personel yang lebih banyak. Jadi seharusnya polisi bisa memiliki berbagai cara untuk mengatasinya. Dan lagi, waktu 18 jam yang sebagian besar malam hari itu bisa saja dimanfaatkan para teroris tersebut untuk kabur sehingga hanya menyisakan 1 orang didalamnya. Mungkin saja kan ?
3. Mengapa ada warga yang belum di-evakuasi ?
Polisi menyatakan bahwa warga di sekitar situ dalam radius 1 km dari rumah tersebut telah di evakuasi. Namun nyatanya, saat adu tembak terjadi, beberapa warga yang berada di rumah yang jaraknya 100 meter hingga 50 meter dari rumah teroris tersebut masih terjebak didalamnya. Beberapa warga tersebut menyatakan, mereka disuruh untuk tetap berada di dalam rumah oleh para polisi. Baru beberapa jam kemudian polisi menyuruh mereka untuk pergi.
Tindakan polisi ini patut dipertanyakan juga. Mengapa polisi membiarkan ada warga yang berada dalam jarak begitu dekat dengan lokasi adu tembak ? Akibatnya, beberapa warga tersebut (bahkan ada beberapa anak kecil juga) mengaku trauma dan takut. Jelas saja mereka takut, mereka mendengar bahkan menyaksikan sendiri adu tembak dalam jarak yang amat sangat dekat dengan mereka.
4. Apakah waktu selama 18 jam itu untuk menarik perhatian publik ?
Waktu penggerebekan yang berlangsung selama 18 jam itu menimbulkan spekulasi lain, yaitu apakah polisi sengaja mengulur waktu untuk menarik perhatian dan simpati publik ? Pihak Intelijen dan Kepolisian yang merasa 'kecolongan' dengan adanya ledakan bom di Ritz Carlton dan JW Marriot berusaha untuk memulihkan nama baiknya sehingga perlu adanya tindakan nyata dan 'heroik'. Maka saat polisi memperkirakan mereka menemukan persembunyian Noordin M Top, mereka langsung menarik perhatian media. Dengan segera, berita tersebut di'eksplosif' oleh media dan publik menaruh harapan besar terhadap pihak Kepolisian.
Saat proses penggerebekan berlangsung, setiap momen diabadikan dan dipublikasikan oleh media sehingga yang tampak adalah 'Polisi bertindak secara heroik untuk melumpuhkan teroris'. Maka secara otomatis, nama Intelijen dan Kepolisian terangkat kembali. Apakah benar seperti itu ??
5. Bukan Noordin M Top ??
Terakhir, kita bertanya-tanya, siapakah orang yang ada didalam rumah tersebut ? Saat penggerebekan, polisi sempat menyatakan bahwa orang tersebut adalah Noordin M Top. Namun belakangan, dalam konferensi pers setelah penggerebekan, polisi menyatakan belum berani mengungkapkan identitas teroris tersebut.
Mengapa polisi sebelumnya berani menyatakan bahwa itu adalah Noordin M Top ? Apakah ada bukti-bukti kuat yang menunjukkan bahwa didalam rumah tersebut terdapat Noordin M Top ? Memang disaat proses penggerebekan terjadi, polisi sempat menanyakan identitas teroris tersebut melalui pengeras suara dan teroris tersebut mengatakan bahwa dirinya adalah Noordin M Top. Lantas apakah polisi percaya begitu saja ? Logikanya, tidak ada seorang pencuri yang mau mengaku dirinya adalah pencuri. Apalagi dalam hal ini, Noordin M Top adalah seorang buronan kelas kakap, mana mungkin dia mengaku begitu saja ?
Lagi-lagi kita berspekulasi, apakah polisi sengaja menyatakan bahwa mereka menemukan Noordin M Top untuk menarik perhatian publik ?? Seperti pertanyaan nomor 4 tadi, apakah mungkin ini dilakukan untuk mengembalikan nama baik Intelijen dan Kepolisian ?
Namun, terlepas dari semua dugaan dan spekulasi tadi, aku mengucapkan selamat kepada pihak Kepolisian, dalam hal ini Densus 88, yang telah berhasil menangkap dan membunuh teroris di daerah Temanggung Jawa tengah dan Jati Asih Bekasi, sabtu yang lalu. Dan tentu saja kita juga harus berterima kasih kepada pihak Intelijen dan Kepolisian yang telah berusaha keras untuk memberantas terorisme dari negeri ini.
Perlu diingat, hal-hal yang diungkapkan diatas hanyalah sebatas pendapat dari aku pribadi. Dan aku tidak pernah bermaksud untuk menjelek-jelekkan pihak manapun. Aku memohon maaf jika ada pihak-pihak yang merasa tersinggung karena tulisan ini. Tapi sekali lagi, ini hanyalah sebuah pendapat dan pemikiranku belaka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar